(Awal
Sebuah Pilihan : Sahabat dan Cinta)
Aku masih terpaku menatap
lekat-lekat sosoknya.Seorang gadis yang sebaya denganku, yang telah cukup lama
menjadi teman akrabku.Aku pun hampir tidak mengingat, bagaimana kami bisa
saling mengenal dan berlanjut menjadi seorang sahabat.Ya, sahabat. Sesuatu yang
spesial bagi tidak sedikit orang.Sosok yang selalu ada saat kau jatuh hingga
kau telah berada di atas angin.
Keisya.Merupakan panggilan akrab untuknya.Dikatakan dewasa, dia sungguh kekanak-kanakan.Disebut
penyabar, tidak selalu seperti itu keadaannya. Namun entah karena hal apa aku
sanggup berlama-lama di dekatnya. Waktu satu jam bukan lagi waktu yang cukup
memuaskan bagi kami untuk saling bercerita dan berkeluh kesah. Mulai dari segala
hal yang sedih, aneh, lucu, keren menurut versi kami, dan banyak lagi hal-hal
tak penting yang kami bahas.
‘Sahabat Selamanya’
Sekiranya itu adalah ikrar setia kami untuk terus bersama hingga tangan
Tuhanlah yang memisahkan. Jika kalian pernah membaca sebuah novel Firefly Lane
karya Kristin Hannah, kalian pasti akan menemukan dua tokoh yang telah
membuktikan kesetiaan janji mereka. Janji untuk bersahabat selamanya.Terlalu
berlebihan memang, jika kami harus disejajarkan dengan kedua tokoh istimewa
itu, Tully dan Kate. Namun, dalam segala situasi yang penuh dengan kecambuk
akan kelabilan ego kami masing-masing, kami mencoba untuk bisa memenuhi janji
kami sabagai sahabat selamanya.
Hingga semua itu berubah
keadaannya.Terjadi begitu saja.Dan berhasil menghancurkan semuanya dalam
sekejap.Tepat di pertengahan Oktober lalu, semua itu kepahitan berawal dan
sebuah hubungan yang erat pun berakhir.Penghianatan.Sebuah kata kunci yang
terasa pantas untuk disandang.
“Sya,…….”. tiba-tibaKeisya datang
padaku dengan berderai air mata. Seperti biasa, ia meletakkan kepalanya di
pundakku.
“Ada apa, Kei? Cerita aja, nggak usah kaya begini lah”.
“Kak,….”. ucapnya menggantung. Tampak keraguan darinya untuk bicara.
“Iya, Dik… Ada apa?”
“Dia jahat, Kak… -hikshikshiks L-“, ucapnya terisak.
“Maksudmu?”
“Farhan mutusin aku, Kak”.
“Apa?Bagaimana bisa?Awas aja kalau aku ketemu ama dia. Huh!” seruku geram penuh
umpat pada Farhan.
“Memang apa yang sudah
terjadi?Kalian bertengkar?”
Keisya hanya terdiam.Isaknya terdengar makin dalam.Makin perih menusuk relung
batinnya.“Baiklah, kalau kamu nggak bisa cerita nggak apa-apa.Tapi ingat ya,
aku selalu ada buat kamu”, ucapku berusaha menghiburnya.
“…. J….”. ia hanya tersenyum dan menatapku mendalam. “Terimakasih Rasya.
Terimakasih”, ucapnya diiringi dengan jatuhnya bulir-bulir bening pada pipinya.
“Yang penting kau bahagia, Dik. Bukankah kita akan menjadi sahabat selamanya?”.
“Untuk sahabat sejati selamanya”, sahut Keisya sambil mengaitkan kelingkingnya
pada kelingkingku.Tampak sebuah senyum tersungging di wajahnya.Ia tampak manis,
meski aku tahu ia tengah membohongi dirinya sendiri dengan senyumnya yang penuh
kegamangan saat ini.
Hari-hari muram buat Keisya telah berlalu.Dapat terlihat lagi auranya yang
periang dan senyumnya yang menggoda. Dengan centilnya ia menghidupkan suasana
di kelas kami. Mungkin, itu salah satu alasan mengapa aku rela menjadi
sahabatnya.
“Wah, lagi seneng ni ye…”, godaku padanya.
“Maksud kak Rasya apa sih?Dateng-dateng langsung nyeplos begitu? Plis deh,…”,
timpalnya padaku.
“Sepertinya ada sesuatu nih. Makanya si putri ini lagi doyan nyegar-nyegir
nggak jelas”.
“Emang menurut kakak begitu ya?” ujarnya tanpa menatap aku, sambil
nyegar-nyegir tak jelas.
“Inggih, Sayang…. Emang ada apa toh? Cerita dong”.
“Rasya tahu Bramasta kan?”
“Emang kenapa?”
“Orangnya perhatian ya, Kak. Baaaiiikkk banget”
Aku sangat terkejut akan apa yang baru saja dikatakan Keisya. Entah aku merasa
ada sesuatu mengganjal di hatiku.Ada serpihan rasa tak rela yang menghujam
dada.Seketika lidahku kelu. Tanpa ingin membuatnya kecewa akan responku yang
tidak cukup baik, ku lemparkan senyum padanya. Berharap ia tak menyadari akan
adanya kegamangan dalam hatiku.
Mulai saat itu, Keisya tak lepas
dari topic yang membahas tentang Bramasta.Anak laki-laki di sekolah kami yang
bisa dikatakan tenar. Berperawakan tinggi, putih, bermata sedang, dan jika
tersenyum maka akan timbul sebuah cekungan di sudut pipinya. Dan semenjak hari
itu pula, waktu malamku terasa panjang dan melelahkan.Bramasta adalah kawanku
saat kelas 4 SD dahulu. Kedua orangtua kami pun sudah cukup mengenal.Tak jarang
Ibu mengundang mereka –Bramasta dan keluarga- dalam setiap acara penting
keluarga kami, begitu juga sebaliknya.Kami tergolong dekat, walau kini pada
nyatanya hubungan kami semakin merenggang. Bahkan jika aku menceritakan hal ini
pada teman-teman di sekolah ku kini, sungguh mereka akan benar-benar tidak
percaya. Mustahil untuk dapat dipercaya oleh mereka.Tak apalah, sempat mengenal
bahkan mejadi kawannya pun jadi hal istimewa buatku.Dan semua yang telah
terjadi antara aku dan Bramasta seakan sudah cukup memberikan alasan
untuk menumbuhkan rasa kagum dari ku untuknya.
Dengan terus melajunya sang waktu, rasa kagum itu kian menjalar, merambat dan
bersarang ke dalam ruang-ruang kosong di benakku.Semakin lama, semua rasa itu
kian mendalam. Dan kini, . . . .tepat dihadapanku. Seorang gadis yang telah
kuanggap bak saudara, menceritakan sosok Bramasta dengan binar-binar kekaguman
yang tampak di matanya.
“Apa kamu mengagumi, Bramasta?” tanyaku tiba-tiba pada Keisya.Semua terasa
terlontar begitu saja dari mulutku.
Keisya diam., tersenyum dan melempar pandangannya pada goresan putih yang
menggantung di langit biru yang gagah. “Menurutmu Rasya? Apakah seperti itu
adanya?” ucapnya kemudian. Tergores sebuah senyum dari bibirnya.
Entah untuk yang ke-berapa kalinya aku membolak-balikkan tubuhku di atas
ranjang.Nyanyian jangkrik terdengar makin lantang, seiring dengan terhentinya
suara riuh manusia yang rutin terdengar di pagi hari. Dari balik jendela, cahaya
bulan telah memberi warna perak pada pepohonan di luar sana. Lambaian
tirai-tirai di kamarku seakan mengabarkan bahwa sang angin darat telah menjaga
nelayan-nelayan yang tengah memulai harinya demi sepincuk nasi. Ku lempar
pandangan pada jam dinding yang menggantung di seberang ranjangku. Pukul
02.00.Hingga saat ini kedua mataku enggan terpejam, walau perihnya mata ku rasa
sudah.Kata-kata Keisya pagi tadi masih terngiang jelas dalam anganku.“Ah, aku
tak boleh seperti ini. Pun tak ada guna aku mementingkan hatiku sendiri.Toh,
Bramasta tak memiliki perasaan apapun padaku. Bukankah cinta tak harus
memiliki?” batinku lirih.Cinta.Inikah rasanya?Sesuatu yang selalu terdengar
indah, magis, dan luar biasa, telah menjangkit diriku.Sesuatu yang selalu
dibuat istimewa oleh para pengarang maupun penyair. Tapi,… mengapa semua
seperti ini? Terasa sakit, berat, dan memilukan.Makin meracuni alam pikiranku
yang kalut.Sungguh buruk kenyataan cinta yang sesungguhnya.Namun semua kembali
pada satu pertanyaan singkat, “Pantaskah aku merasakan cinta saat ini?”
“Sya,…Rasya!” panggil Nadine tergopoh-gopoh.
“Ada apa?Santai aja lagi, nggak usah lebay sampai mengos-mengos begitu”.Ucapku
sekenanya.
“hosh.. hosh.. Itu…hosh hosh… emmm, i..ttu lho…” ucapnya tak jelas
sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
“Hadeh, ngomong apa to, Mbak yu… atur napas dulu dah, tenang”.
Dalam waktu sepersekian detik, Nadine kembali bernapas normal. “Kei,….Kei,..
Kei, Rasya..”
“Kei? Ada apa? Kenapa Keisya?” responku panik seketika.
“Dia lagi berantem di kantin. Anak-anak malah pada nyorakin mereka, ngomporin
gitu-….”
“Oke, makasih”.Responku singkat dan segera berlari ke arah kantin.Walau aku
tahu bahwa Nadine belum selesai bicara tadi. Aku harap ia tidak marah dan bisa
mengerti.
Gerombolan anak laki-laki dan
perempuan riuh, membentuk formasi lingkaran tak beraturan. Mereka meneriakkan
nama Kei dan Teressa. Segera ku berlari menuju kerumunan dan beradu badan
dengan yang lainnya agar aku dapat menempati posisi terdepan. Begitu sampai di
barisan depan, dapat ku lihat Kei dan Tere yang saling menjambak. Wajah mereka
berdua merah padam, sama-sama terbakar emosi menggebu.Tak membuang waktu aku
menuju ke tengah-tengah berharap dapat melerainya.
“Hei, hentikan!Hentikan semua ini!” teriakku cukup keras.Sialnya suaraku kalah
terdengar daripada teriakan masal yang tengah mendukung jagoan mereka yang
tengah bertanding.
‘Bruak!!!’
Aku jatuh tersungkur saat aku
berusaha menengahi mereka berdua. Tangan Tere mendorong tubuhku keras secara
tidak sengaja –mungkin memang tak sengaja, aku tak tahu-. Keisya menatapku yang
merintih lekat-lekat.Ia melepaskan diri dari rengkuhan tangan Tere, dan
bergegas menghampiriku. Masih dengan wajah yang merah padam, Tere mentap aku
dan Keisya bergantian.Tatapan yang seakan bermakna,
aku-akan-memberikan-pelajaran-yang-lebih-dari-ini-anak-bau-kencur. Ia berlalu
dengan senyum puas karena merasa telah menang atas Keisya.
“Kamu nggak apa-apa, Rasya?”
“Yang seharusnya Tanya itu aku, Bodoh. Kamu nggak apa-apa?”
“Sial, semua gara-gara cewek jelek dan bawel itu.Awas aja dia. Berani banget
dia macem-macem sama kamu, Sya”, umpatnya kesal bukan main.
Kei berdiri dan berjalan menghampiri Tere yang melangkah belum jauh dari TKP
sebelumya. “Tere! “ teriak Kei. Tere berbalik, “Apa lagi anak bawang?”
‘Plak!’
Pukulan keras melayang dari tangan Kei ke pipi Tere. Saat tangan Tere hampir
meyentuh permukaan pipi Kei, sebuah tangan menghentikannya.
“Bramasta”, ucap Tere dan Kei hampir bersamaan.
“Udahlah, kalian jangan kayak anak kecil sepeti ini.Apa kalian nggak mikir
kalau perbuatan kalian mencoreng nama baik kalian sendiri?” ujar Bramasta sok
bijak.
Tanpa berkata sepatah katapun, Tere
berlalu.Terbesit kilatan amarah yang kian berkobar di matanya.Bramasta menatap
wajah Keisya teliti.“Panampilanmu acak adul banget.Sumpah. Kamu juga luka, di
obtain ke UKS gih,…….”
Bulir-bulir bening mengalir mulus di pipiku.Aku tak kuasa lagi untuk menahan
genangannya. Hatiku benar-benar terasa terguncang melihat apa yang terjadi pada
Rasta dan Kei. Mereka kini tengah berdiri di hadapanku, berjarak sangat dekat.
Tampak rasa cemas dari air muka Rasta. Aku berlari.Menjauh dari pemandangan
yang memekakkan luka di hatiku.Aku berlari megikuti kemana pun langkah kaki
terarah.
“Kak Rasya, tunggu..”, Kei memanggilku yang sedari kemarin berusaha
menghindrinya. “Sya, kamu marah sama aku?Apa karena aku berantem waktu itu ya?
Aku minta maaf”.
Ku tatap mata bulatnya mendalam. Mata yang membuat setiap orang akan menaruh
simpati padanya. “Iya aku maafin kok.Lain kali jangan kamu ulangi, inget
orangtuamu nggak pernah ngajarin kamu untuk berantem kaya ayam bodoh.Apalagi
ini Cuma hal sepele”.
“Maaf, Sya. Aku….” Air mata menggenang di kedua pelupuk matanya, selang
beberapa detik bulir-bulir bening itu tumpah ruah. “Maafkan aku, Sya,,,”
Ku raih tubuhnya dan ku dekap ia. Aku beruaha untuk menentramkan hatinya.“Iya,
kei aku maafin kamu. Dan aku juga minta maaf ya, Kei….”
Kei menarik dirinya dari tubuhku.Ia menatapku, “Maaf? Untuk apa?”
“Untuk,….segalanya, Kei. Segalanya”, jawabku mnggantung.Aku terus terhanyut
dalam tatapan matanya. “Kei maafkan aku yang belum seutuhnya rela melepaskan
perasaanku pada Rasta untukmu”, batnku dalam hati.
“Oke, daripada larut dalam kesedihan yang super nggak jelas gimana kalau nanti
kita hang out. Makan bakso atau mi ayam?” tawar Kei padaku, sambil menyeka
jalur yang membekas atas air matanya.
“Aku kenyang. Mungkin lain kali. Aku minta maaf”.
“Sayang sekali. Tapi, tak apalah”
|”Emm, kalau boleh tahu ada masalah apa, antara kamu sama Tere?”
“O, jadi gini ceritanya-..”.
Matahari kian meninggi.Panasnya sungguh menyegat, serasa membakar hangat
ubun-ubun kepala.Ku kayuh sepeda menuju perpustakaan umum.Dalam kondisi kalut
seperti ini, ku luangkan sedikit waktu untuk sekedar mambaca buku, berharap
semua masalah dapat terlupakan walau hanya sekejap.
Begitu sampai di dalam. Ribuan buku yang tertata rapi dalam rak-rak yang saling
berjajar. Ku perintahkan langkah kakiku menuju kumpulan buku yang berlabel
“Sastra dan Karya Fiksi”.
“Rasya!” tiba-tiba sebuah suara yang tak asing bagiku terdengar keras
memanggil.
“Hei, Kei! Tumben ke sini.Sama…?” belum genap aku menyelesaikan kalimat
tanyaku, sosok Rasta menyusul di belakang Kei.“Sepertinya aku sudah tahu
jawaban atas pertanyaanku sendiri”. ujarku kemudian.
“Ku akui kau memang cerdas, Rasya”.
“Hei, Rasya! Udah lama banget nggak ketemu.Ngilang kemana aja kamu?”Rasta
tiba-tiba datang dan menyapa ku.
“Bukankah yang selama ini sering ngilang itu kamu ya?Secara anak tenar gitu?”
“Bisa aja kamu, Sya.Kamu belum berubah ya.Masih pinter ngeles kaya dulu”.
“Oh ya?” jawabku singkat.“Aku emang nggak berubah, Rasta.Begitu juga perasaanku
ke kamu. Mungkin selamanya akan tetap sama”, benakku kemudian. Jujur saja,
seketika jantungku berdebar kencang, aliran darahku mengalir begitu
cepat.Tubuhku gemetar.Tangan dan kakiku terasa kesemutan.
“Ehem..ehem… ada yang dikacangin di sini nih”, Kei berkomentar atas suasana
yang terjdi.
“Wah, ada yang marah ni ye”, godaku.
“Oke.Kei, bisa kamu cerita gimana kamu bisa kenal dan bersahabat sama cewe
bawel, cerewet, dan cengeng kayak dia?”
“Oh, gitu? Awas kamu ya”.
“Kamu ngancem ceritanya nih?” goda Rasta padaku.
Mulai detik itu, ku rasakan kembali kedekatanku dengan Rasta. Dan dapat
ditebak, aku semakin sukar menghapusnya dari hatiku. Seakan ada harapan
untukku. Jujur saja, aku merasa dia sangat perhatian kepadaku. Aku nyaman
berada di dekatnya. Aku sering menghindari kontak mata dengannya, aku tak kuasa
menatapnya lama. Tak jarang Rasta tersenyum geli dengan tingkahku yang serba
salah. Namun, kami tidak hanya berdua saja dalam melewati hari. Ada Keisya.
Sahabatku yang juga saingan hatiku akan Rasta.*****
‘Drrrrtt,,,ddrrrrtt,,’
Handphone ku bergetar.Ada sebuah pesan dari Rasta. Jujur, aku telah
menantikannya sejak semalam. “. . . Happy Birthday, Friend. Moga tambah suskses
aja dan selalu berada dalam naunagn rahmat-Nya.Amiin. O ya, Sya hari ini aku
mau ngundang kamu untuk makan bareng keluarga aku.Toh, udah lama juga kita
nggak makan bareng.Jangan lupa kenakan gaun ungu itu. Aku harap kau
menyukainya. . . .”, sms panjang lebar dari Rasta membuatku gembira dan
bingung. Gembira tas undangannya dan bingung perkara gaun ungu yang ia sebutkan
dalam pesannya. Gaun apa yang ia maksudkan?
“Kei, kamu nerima titipan nggak?
Kiriman pos gitu, ada nggak?” tanyaku pada Keisya yang kini tinggal seatap
denganku. Kini lagi-lagi kami kuliah di tempat yang sama. Dan ujung-ujungnya,
kami memutuskan untuk tinggal di rumah kos satu atap.
“Hah, ng..ng kiriman… tt .. ttittipan? Ng..ng.. ng… aku nggak tahu tuh. Emang
kenapa?” jawabnya dengan air muka yang aneh seketika.
“Nggak, aku butuh banget barang itu.Ada hal penting untukku.Terimakasih”.
“Yap, aku pasti akan memberimu kabar seputar kiriman yang datang, Rasya. Itu
pasti.”
“Aku percaya padamu, Kei”.
“Ngng, Rasya,…”
“Iya, Kei?”
“Selamat ulang tahunJ”
“Terimakasih, Sobat. Kau yang terbaik”.
Hatiku masih terbalut gelisah dan
bersalah. Gaun pemberian Rasta tak berjejak, hilang. Aku pun tak menghadiri
undangan makan malam dari keluarga Rasta. Aku tak tahu harus berkata apa pada
mereka perkara gaun yang hilang itu. Aku malu. Rasta maafkan aku.
‘Bruak!!’
Sebuah kotak bersampul hitam jatuh
dari lokerku. Penasaran, ku buka bungkusan kotak itu.Dan ku lihat isinya,
sebuah kaset rekaman dan sebuah buku harian yang persis dengan milik Keisya.
Apa maksudnya ini. Tak betah didekap penasaran, ku setel rekaman itu. Dan
ternyata……
“Apa maksudmu melakukan ini semua, Keisya? Apa salahku padamu?” makiku pad
Keisya setibanya aku di rumah. Awalnya aku tak percaya akan apa yang ku lihat
dalam rekaman itu, tapi pernyataan Keisya pada buku hariannya cukup menjadi
bukti.
. . . Tuhan, sungguh aku tak rela ini semua terjadi.Ternyata selama ini Kak
Rasta lebih menaruh kagum pada Rasya.Bukan padaku! Tadi pagi, aku menemukan
sebuah bingkisan bersampul ungu di depan pintu. Dibawa penasaran, kemudin ku
buka isinya. Ternyata itu adalah kado ulang tahun dari Rasta untuk Rasya
.Sungguh hati ini terbakar. Hatiku berkecamuk. Haruskah aku utamakan sahabatku
atau perasaanku? Tak berselang lama, ada seorang gadis kecil melintas di hadapanku.
Ku panggil ia, dan ku berikan gaun ungu itu padanya. Aku berkata padanya, bahwa
ia harus memakai gaun ini jika tiba waktunya nanti. Ia tersenyum bahagia dan
berlalu. Kembali aku menitihkan air mata. Rasya, maafkan aku.Sungguh aku tak
kuasa menerima semua ini.. Rabu, 20 Oktober. . . .
“Rasya, aku… ak akk,..akkuuuu….”
“Sudah cukup, Kei.Aku lelah denganmu. Benar apa yang Tere katakan padaku. Kau
memang tak punya hati. Kamu lebih mementingkan urusan dan kebutuhanmu
sendiri.”.
“Tere? Apa yang telah ia katakan?”
“Tak penting. Yang terpenting adalah, aku telah menyadari bahwa kau adalah
seorang penghianat besar. Aku kecewa padamu”.
“Aku bukan penghianat. Aku sahabatmu, Sya’.
“Sahabat? Tidak lagi untuk sekarang dan seterusnya”. Usai bicara aku lekas
berlalu.
“Rasya,…”
Langkahku terhenti. Hatiku berontak
untuk mencabut semua yang telah ku ucapkan. Namun, emosiku tak dapat teredam
lagi. “Oh ya, Kei. Mulai siang ini aku tidak lagi seatap denganmu. Semoga kau
segera tenang atas kepergianku. Dan,… terimakasih”, ucapku tanpa berbalik.
‘drrrrtttt…. Dddrrrtttt…’
Handphoneku bergetar untuk yang ke-sekian kalinya. Terpampang nama Keisya di
layar handphoneku. Sudah hampir dua minggu aku tak menjawab sms atau menerima
panggilan darinya.Hatiku masih nyeri saat mengingat semuanya. Aku juga
menghindari Rasta. Jika Keisya memang benar-benar menginginkannya, akan ku
relakan dia. Mungkin Rasta benar-benar bukan untukku.
Ku tatap lekat-lekat foto yang tengah ke dekap. Bergamabar 3 remaja, satu
laki-laki dan dua wanita. Mereka tersenyum riang menatap kamera.Di bawahnya
tertera tulisan SAHABAT SEJATI SELAMANYA.
Air mata mengucur deras.Menusuk luka hati yang seakan terlanjur bernanah.Luka
hati yang tak pernah aku inginkan.Luka hati yang telah mengorbankan sesuatu
berharaga dalam duniaku, persahabatanku..
Nama Cerpen
|
Nilai
kehidupan dalam cerpen
|
Nilai
kehidupan sehari-hari
|
Dilema
|
·
Hingga
semua itu berubah keadaannya. Terjadi begitu saja. Dan berhasil menghancurkan
semuanya dalam sekejap.
·
Keisya
hanya terdiam.Isaknya terdengar makin dalam. Makin perih menusuk relung
batinnya.
·
Bulir-bulir
bening mengalir mulus di pipiku.Aku tak kuasa lagi untuk menahan genangannya.
Hatiku benar-benar terasa terguncang melihat apa yang terjadi pada Rasta dan
Kei.
·
“Tak
penting. Yang terpenting adalah, aku telah menyadari bahwa kau adalah seorang
penghianat besar. Aku kecewa padamu”.
|
v
Jika tuhan menghendaki, keadaan akan berubah dan
semua itu merupakan cobaan
v
Kesedihan membuat duka yang amat mendalam.
v
Kesedihan akan membuat keadaan berubah. Disaat
duka menjadi suka dan bisa saja disaat suka menjadi duka. Semua keadaan akan
berubah pada waktu yang tak akan kita duga.
v
Kekecewaan seseorang bisa menjadi malapetaka atas
diri sendiri.
|
No
|
Unsur
Intrinsik
|
Nasi Goreng
|
1.
|
Tema
|
Persahabatan
dan Cinta
|
2.
|
Alur
|
Alur
maju.
|
3.
|
Tokoh
|
·
Rasya : Protagonis
·
Keisya : Antagonis
·
Tere : Protaginis
·
Bramasya : Protagonis
·
Rasta : Protagonis
·
Nadine : Protagonis
|
4.
|
Sudut Pandang
|
Sudut
pandang orang ke satu.
|
5.
|
Latar
|
Waktu
: Pagi dan siang.
Tempat
: Di Rumah dan di Sekolah.
Keadaan
: Ramai dan sepi.
|
6.
|
Amanat
|
Penghianatan
akan menghancurkan segalanya yang kita miliki. Termasuk sesuatu yang berharga
bagi kita.
|